Shalat dan Psikologi Kesehatan
Program Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia

Home Publikasi Kontributor Rekapitulasi Deskripsi Pencarian Diskusi

SHALAT DAN IMPLIKASI PSIKOLOGI KESEHATAN

  Oleh: Khoirul Huda Basyir

 

Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam. Begitu pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah berkenan memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung. Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah yang terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah baik ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani).

Pada bulan Rajab ini, umat Islam memperingati peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Salah satu hikmah Isra Mi'raj yang terpenting adalah kewajiban shalat bagi setiap Muslim lima kali sehari semalam. Shalat merupakan ibadah yang paling fundamental dalam Islam. Ia bukan sekadar kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi (seharusnya) merupakan kebutuhan manusia secara spiritualitas. Shalat berasal dari kata shalla-yushalli-shalat-shilat, yang berarti hubungan. Dalam konteks sufisme, shalat berarti adanya keterjalinan atau hubungan vertikal antara makhluk dan Khalik, antara hamba dan Tuhannya. Shalat merupakan wahana untuk mendekatkan diri pada Tuhan, ber-taqarrub kepada Allah SWT, penguasa jagat raya ini. Oleh karena itu, seorang Mukmin yang benar-benar shalat, jiwanya tenang dan pikirannya lapang.

Pernah suatu kali Imam Hasan bin Ali ditanya orang, ''Mengapa orang yang melaksanakan shalat itu wajahnya berseri dan jiwanya tenteram?'' Imam Hasan bin Ali menjelaskan, ''Karena mereka berdialog (munajat) pada Tuhannya.
'' Shalat juga merupakan identitas bagi seorang Muslim. Nabi SAW bersabda, ''Perbedaan antara kami dan mereka adalah shalat. Siapa yang meninggalkannya, maka ia sudah kufur nikmat.'' (HR Baihaqi). Dalam hadis lain dikatakan, ''Shalat itu tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti mendirikan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti ikut meruntuhkan agama.'' (HR Turmudzi). Begitu pentingnya kewajiban shalat bagi seorang Muslim, sehingga tidak ada alasan apa pun yang dibenarkan untuk meninggalkan shalat, hingga ia sendiri malah dishalatkan. Pengecualian khusus hanya berlaku untuk wanita Muslimah yang sedang menstruasi. Dalam menunaikan shalat, setiap Muslim dianjurkan untuk berjamaah. Ini mengandung makna tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam. Persaudaraan yang didasarkan oleh ikatan religius, ukhuwah Islamiyah, untuk menebarkan kebenaran dan kemaslahatan bagi ummat manusia. Rasa persamaan juga dipupuk dalam shalat berjamaah.

Shalat berjamaah mengandung asas equality before law, persamaan di hadapan hukum. Siapa yang datang ke masjid lebih awal berhak menempati shaf pertama, tanpa memandang jabatan dan posisi seseorang. Dengan demikian, nilai-nilai demokrasi sebenarnya sudah ditanamkan pula di masjid melalui ibadah shalat yang dilakukan secara berjamaah. Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (Al-Ankabut: 45). Seorang Muslim yang benar-benar shalat jiwanya tenang dan hati pun tenteram. Karena, orang yang shalat selalu merasa dalam pengawasan Allah. Oleh karena itu, perbuatan keji dan munkar seperti praktik KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme), penipuan, penggelapan, dan manipulasi, mestinya dapat dicegah dalam masyarakat yang shalatnya baik. Ini semua bisa terjadi karena masyarakat akan selalu merasa berada dalam kontrol dan pengawasan Ilahi

 

Shalat Bukan Sekadar Ritual

Umat Islam tidak diwajibkan "melaksanakan" shalat, tetapi harus "mendirikan" shalat. Shalat tidak hanya sekadar gerakan dan bacaan yang sifarnya ritual-individual, tetapi harus berdampak pada perilaku sehari-hari. Bahwa shalat merupakan "tiang agama" (imaduddin), dan yang tidak melaksanakannya berarti meruntuhkan agamanya, kita sudah sama-sama mafhum. Demikian pula bahwasanya shalat dapat mencegah diri pelakunya dari perbuatan keji dan munkar

Masalahnya sekarang, mengapa tidak sedikit seorang Muslim yang rajin melaksanakan shalat, tetapi perbuatan keji dan munkar tetap saja dilakukannya. Tentang hal ini, Nabi SAW pernah menyatakan, orang itu bukannya semakin dekat pada Allah melainkan semakin menjauh dariNya. Bisa jadi, shalat yang tidak membuat seseorang menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar adalah shalat yang dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban dan "asal jadi". Kekhusyukan dan kesempurnaannya kurang diperhatikan. Atau karena shalat yang dilakukannya tidak berlandaskan keikhlasan melainkan riya, ingin dipuji orang, atau bermotif duniawi. Firman Allah SWT: Celakalah orang-orang yang shalat; yaitu orang yang lalai dalam shalatnya dan mereka yang riya (dalam shalatnya) (QS. 107:5-6).

Shalat bukanlah sekadar melaksanakan gerakan dan bacaan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang Muslim bukan hanya dituntut "melaksanakan" shalat, tetapi "mendirikan" shalat (aqama shalah). Artinya, shalat tidak hanya sekadar gerak badan dan bacaan (ritual-individual), tetapi harus pula tercermin dalam perilaku sehari-hari (shalat sosial). Semua pengakuan Allah SWT sebagai Tuhan, Muhammad SAW sebagai Rasul, harus terbuktikan dalam perilaku, berupa ketaatan terhadap semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Shalat adalah simbol kepasrahan seorang Muslim pada Allah SWT. Shalat menjadi simbol keislaman seseorang, karena hakikat Islam sendiri adalah "penyerahan diri sepenuhnya pada kehendak Allah," sebagaimana makna asal kata "Islam," aslama yakni menyerahkan diri

Ketika memulai shalat dengan takbir, sambil mengangkat kedua tangan, itu menjadi simbol pengakuan keagungan Allah SWT. Tujuan hakiki dari shalat sendiri, menurut Ensiklopedi Islam, adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah agung dan pernyataan patuh pada-Nya. Bagi seseorang yang telah melakukan shalat dengan penuh rasa takwa dan keimanan, hubungannya dengan Allah SWT akan kuat, istiqamah dalam beribadah pada-Nya, dan menjaga ketentuan-ketentuan yang digariskan-Nya.

Shalat harus dilaksanakan secara khusyuk. Artinya, secara sungguh-sungguh, ikhlas karena Allah SWT, tertib bacaan dan gerakannya, dan tidak lalai, tidak menunda-nunda, dan pikiran tidak ke mana-nama selagi shalat. Salah satu kunci mencapai kekhusyukan dalam shalat adalah mengerti apa yang diucapkan selama shalat, mulai dari bacaan takbir hingga salam. Artinya, mengerti dan memahami arti dari bacaan shalat. Jika kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan, sama halnya dengan mengigau.

Kita tidak menyadari apa yang diucapkan Karena itu, bagi kita yang belum mengerti atau mengetahui satu per satu arti dan makna bacaan shalat, mulai dari takbir, doa iftitah, surat Al-Fatihah, bacaan ruku', sujud, tahiyat, hingga salam, belum terlambat kiranya memulai untuk mencari tahu dan memahaminya

Shalat bukanlah beban, melainkan kebutuhan pokok dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat juga merupakan mediator untuk mendapatkan pertolongan dan ampunan Allah SWT, serta ketenangan jiwa (QS. 2:45). Shalat pun merupakan sarana untuk mencapai kemenangan dan keberuntungan (QS Al-Mukminun: 1, Al-Ma'arij: Apalagi shalat wajib lima kali dalam sehari semalam itu merupakan penghapus dosa sebagaimana air yang dipakai mandi dapat menghapuskan daki yang ada di badan 19).
Dengan shalat akan tercipta hubungan yang amat dekat dengan Allah SWT (taqarrub), sehingga terasa adanya pengawasan dari-Nya terhadap segala perilaku kita, yang pada gilirannya akan memberikan ketenangan dalam jiwa sekaligus mencegah terjadinya kelalaian yang dapat memalingkan dari ketaatan pada-Nya (QS. 51:56)

Tiada perintah Allah SWT yang seketat shalat. Ibadah ini wajib dilaksanakan setiap Muslim dalam kondisi apa pun, selama nyawa masih menyatu dalam raga. Tidak mampu berdiri, boleh sambil duduk. Tidak mampu sambil duduk, silakan sambil berbaring. Tidak heran, menurut hadis Nabi SAW, amal pertama yang akan dihisab di akhirat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, tanpa cela, maka akan baik pula seluruh amal; jika shalatnya jelek, maka akan buruk pulalah seluruh amal.

Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang tidak saja memenuhi syarat dan rukun, ditambah kekhusyukan dalam pelaksanaannya, tetapi juga berdampak pada kebaikan perilaku sehari-hari. Seluruh bacaan dan gerakan shalat, jika direnungkan, menyimbolkan sekaligus mencerminkan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang muslim dalam kehidupannya. 

Takbir --sebagai pembuka shalat-- menunjukkan sebuah pengakuan dan sikap dasar, dalam kehidupan seorang Muslim hanya Allah yang Mahabesar, sehingga hanya Dia pula yang ditaati, ditakuti, dan dipuji. Pengabdian, permohonan, dan penyandaran hidup hanya kepada Allah semata

Gerakan-gerakan shalat seperti ruku', i'tidal, sujud, dan tahiyat merupakan simbol penghormatan hakiki kepada Allah. Tatkala sujud, kepala kita disejajarkan dengan tanah. Setidaknya hal itu bermakna, di hadapan Allah manusia dengan tanah sama-sama makhluk. Maka tak pantas jika kita berlaku angkuh, gila hormat, dan sebagainya, sebab pujian dan penghormatan hakiki hanya pantas diberikan kepada Allah SWT.

Shalat ditutup dengan salam, sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Ketika menutup shalat itu kita mendoakan orang di sekitar kita agar diberi keselamatan dan keberkatan. Bacaan dan gerakan itu bermakna, seorang Muslim hendaknya menebar keselamatan dan kedamaian kepada sesama, bukan menebar benih kecelakaan, kerusuhan, atau permusuhan. "Jika engkau bertemu saudaramu (sesama Muslim), sampaikan salam kepDalam hadits lain Nabi SAW menegaskan, "Seorang Muslim adalah dia yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

Muslim sejati tidak akan mengganggu orang lain dengan perkataan kotornya, umpatannya, atau ucapan-ucapan yang menyakitkan hati. Ia pun tidak akan mencelakakan orang lain dengan ulahnya. Muslim sejati senantiasa menghadirkan kemaslahatan dan manfaat bagi orang lain, bukan menjadi "trouble maker" atau pembawa bencana dan kesulitan bagi orang lain. "Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain," demikian sabda Nabi SAW dalam sebuah wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalibadanya" (HR Abu Daud).

 

1. Tinjauan dari segi moral 

Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah SWT : 

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar"(QS. Al Ankabut 45) 

Shalat yang khusu’ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar ikhlas, pasrah terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat tersebut kita meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan pahala dari-Nya. Oleh karena itu orang yang shalatnya khusu’ dan ikhlas karena Allah SWT akan selalu merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri, tidak akan menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain segala sesuatu yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan ridlo dari Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman : 

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusu’  dalam sembahyangnya"(QS. Al Mukminuun 1-2) 

Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat yang buruk, khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan duniawi lebih penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah. Kebersihan dan kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits : 

"Jikalau di pintu seseorang diantara kamu ada sebuah sungai dimana ia mandi lima kali, maka apakah akan tinggal lagi kotorannya (yang melekat pada tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : Yang demikian itu serupa dengan shalat lima waktu yang (mana) Allah dengannya (shalat itu) dihapuskan semua kesalahan."(HR. Abu Daud) 

Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa kecil, sedangkan yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada Allah.

Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini karena pada dasarnya manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah satu firman Allah : 

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya" (QS. Al Maâaarij) 

Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita harus memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar serta tawakal. 

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’."(QS. Al Baqarah 45) 

"Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."(QS. Al Baqarah 153) 

Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai positif dari shalat :

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram"(QS. Ar Ra’d 28)

Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan persaudaraan antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain, apabila seseorang shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia mempunyai satu pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada Khaliq-nya yaitu Ka’bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat berjamaah, shalat berjamaah juga mengandung hikmah kebersamaan, persatuan, persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma’mum mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan kesalahan, maka ma’mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah keabsahan maupun kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jamaah akan timbul rasa kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jamaah mereka. Ibarat orang berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga keamanan dan keselamatan kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :

"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat" (HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar)

 

2. Tinjauan dari segi fisik (kesehatan) 

Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan diatas, juga mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut masalah kesehatan.

Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR. A. SABOE yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang termasyhur terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut : 

a) Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh. Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua persendian tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang disangkutkan di leher. 

b) Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas tulang pinggang, dsb. 

c) Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala) kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan, terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya urat-urat nadi otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi sempit, keras, dan rapuh karena dimakan usia. 

d) Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh darah balik di sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran darah terutama yang mengalir kembali ke jantung dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat menghindarkan dari pengakit bawasir. 

e) Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil. 

f) Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.

 

Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia.

 

Sholat Jamaah  

Sholat berjamaah di masjid adalah salah satu ciri utama masyarakat Islam. Dalam banyak ayat-Nya, Allah SWT memuji kaum muslimin yang komitmen dengan sholat berjamaah  dan mencela orang yang menganggap remeh persoalan ini.

Di antara pujian Allah adalah :

1. Sholat berjamaah dijadikan salah satu indikator kesuksesan orang-orang mukmin, Allah berfirman : 

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang memelihara shalatnya (QS. Al_Mukminun 1&9) 

2.    Sholat berjamaah adalah salah satu  indikator masyarakat yang bersyukur atas  kemenangan yang di anugerahkan Allah kepada mereka. Allah berfirman:

"(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusannya.(QS.al-Haj41)


Orang yang melalaikan dan menganggap remeh persoalan ini digambarkan oleh Allah sebagai salah satu sifat munafik.  

"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (QS. At Taubah : 54) 

Sholat jamaah adalah sunnah agung dari Rasulullah yang tidak boleh diabaikan. Jika diabaikan bisa berdampak kepada kesesatan. Ibnu Mas'ud menggambarkan urgensi shalat jamaah sebagai berikut : Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah di hari esok dalam keadaan muslim hendaklah dia menjaga sholat-sholat mereka secara berjamaah di mana mereka diseru. Sesungguhnya Allah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah yang agung, dan sholat berjamaah adalah diantara sunnah yang agung tersebut. Andaikan kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang-orang yang 'suka tertinggal' itu sholat di rumahnya, maka kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian sudah meninggalkan sunnah Nabi kalian, maka kalian sudah tersesat. Tidak ada seorangpun yang berwudhu' dengan sempurna, lalu berangkat ke masjid, kecuali Allah menulis untuk setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menggugurkan satu kesalahan. Aku menyaksikan komunitas kami, tidak ada yang meninggalkan sholat jamaah kecuali munafik yang jelas kemunafikannya. Bahkan ada orang yang datang ke masjid dengan cara dibopong oleh dua orang sampai dia sampai ke shaf (sebagai bukti kesungguhan mereka melaksanakan sunnah Rasulullah)"

Dalam hadits lain disebutkan bahwa shaf yang tidak lurus saat sholat berjamaah adalah indikator tidak beresnya barisan kaum muslimin. Rasulullah bersabda saat meluruskan shaf:

Dari Ibnu Mas'ud RA berkata : Rasulullah SAW menarik pundak-pundak kami pada saat mulai sholat. Beliau bersabda : luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih sehingga hati-hati kalian menjadi berselisih. Hendaklah berdiri di belakangku orang-orang yang berilmu, kemudian orang setelahnya, kemudian orang setelahnya. Ibnu Mas'ud berkata : "Kalian hari ini perselisihannya jauh lebih hebat"

Jika shaf yang tidak lurus saat sholat jamaah menjadi salah satu indikator adanya ketidakberesan di dalam shaf kaum muslimin, apalagi meninggalkan sholat berjamaah.

Berdasarkan pemahaman yang dalam akan syariat Islam, Al Imam Hasan Al Banna berwasiat kepada para kader dakwah untuk segera menunaikan sholat berjamaah ketika adzan sudah berkumandang. 

"Dirikanlah sholat kapan saja kamu mendengar adzan, bagaimanapun kondisimu"

 

Daftar Pustaka

 

Alquran alkarim dan terjemahannya

Mujiono Nurcholis, Meraih pahala 27 derajat Bandung Mizan 97

Fadh abdur rahman bin sulaiman shalat menurut alquran ( jakarta, Firdaus 92)

Wahbah Az Zuhaili, al-Figh al-Islami (Jakarta, Pustaka Amani, 1998)

Wijaaya Hembing kesuma, Hikmah shalat lima waktu untuk pengobatan dan kesehatan  Jakarta, pustaka kartini 96


Hak Cipta:
Program Pascasarjana Universitas Indonesia; Program Kajian Timur Tengah dan Islam; 
Kekhususan Kajian Islam dan Psikologi; Laboratorium Psikologi Kesehatan Islami 
Web master: aliah@ui.edu. Tanggal perbaikan terakhir: June 23, 2006.